Di Indonesia hanya sedikit kebudayaan yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Lampung (Sumatera Selatan), Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan yang memiliki aksara sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan unggul.
Karena bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus simbol kemajuan peradaban. Semua aksara Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang berinduk pada bahasa Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India dan Asia Tenggara.
Di Nusantara, bahasa ini mengalami penyebaran dan pengembangan, bermula dari bahasa Kawi, sebagai induk Bahasa Nusantara.
Dari bahasa Kawi menjadi bahasa: Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak, Lampung atau Sumatera Selatan (Kaganga), dan Bugis. Dari Kerajaan Sekala Bekhak yang telah memiliki unsur-unsur “kebudayaan lengkap” ini pulalah “ideologi” Sai Batin dilahirkan dan disebarluaskan. Sampai saat ini, masih banyak yang bisa dibaca dari jejak-jejak yang tertinggal.
Baik dari jejak fisik maupun jejak yang tidak kasat mata. Dari legenda, seni budaya, adat tata cara, bahasa lisan tulisan, artefak benda peninggalan, hingga falsafah hidup masih ada runut rujukannya.
Dari Sekala Bekhak tersebut di kemudian hari pengaruh budaya dan peradabannya berkembang dan berpengaruh luas ke seluruh Lampung bahkan sampai ke Komering di Sumatera Selatan.
Selain Sekala Bekhak juga ada tinggalan arkeologis berupa tradisi megalitik berupa batu datar, batu bergores dan tiga toponim permukiman kuno lainnya masih ditemukan hingga Bandar Negeri Suoh dan Suoh, yaitu wilayah perbatasan antara Lampung Barat dan Tanggamus.
Kehadiran permukiman kuno di Liwa tersebut membuka pengetahuan bahwa tinggalan arkeologis dan deposit komoditas keramik asing telah tembus hingga ke pedalaman. Namun, dari mana jalur tempuhnya masih belum diketahui.
Selain eksplorasi di wilayah ini masih minim, secara topografi wilayah Liwa terhalang bukit barisan yang memanjang di jalur pesisir barat hingga selatan Tanggamus.




Lappung Media Network