Pemerintah Kabupaten Lampung Barat mengancang dan menggesa kawasan geoheritage Suoh agar ditabalkan oleh Komite Nasional Geopark Indonesia (KNI) menjadi Suoh Geopark alias Taman Bumi Suoh. Salah satu tujuannya, Suoh Geopark ini ke depan diharapkan akan makin memperkokoh eksistensi Lampung Barat sebagai kabupaten Literasi, Konservasi dan Tangguh Bencana.
Gebrakan dan langkah-langkah apa yang sudah dan sedang dilakukan pemerintah kabupaten Lampung Barat dalam melakukan percepatan agar Geoheritage Suoh menjadi Suoh Geopark Nasional?Bupati Kabupaten Lampung Barat Parosil Mabsus mengarahkan agar mempercepat percepatan yang dilakukan untuk memuluskan tujuan terwujudnya kawasan Suoh menjadi Geopark Suoh.
Pemerintah Kabupaten Lampung Barat (Lambar) melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Lambar saat ini terus mengkaji Suoh menjadi kawasan Geopark Nasional.Untuk mempercepat poses Balitbang akan berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan pihak stakeholder lainnya.
Langkah berikutnya, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) berkoordinasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Bandung Jawa Barat.
Untuk menunjukkkan kesungguhannya pemerintah kabupaten Lampung Barat juga menuangkan hal tersebut dalam dokumen RPJMD Lambar 2017-2022 dan dokumen Riview RTRW Lampung Barat. Sedangkan. Gerakan bottom up dari pihak masyarakat juga tak ketinggalan berpartisipasi aktif. Dimotori Forum Literasi Lampung Barat melakukan studi literatur, menghimpun data dan menggalang dukungan khalayak untuk menjadikan Suoh Kawasan Geopark Nasional (Suoh Geopark) melalui petisi melalui media sosial Change.Org.
Selain itu, Tim Gerakan Literasi Daerah (GLD) Kabupaten Lampung Barat, Forum Literasi Lampung Barat, Pustaka LaBRAK dan RSIA Bunda Liwa kerja bareng menggelar Lomba Menulis “Dukung Suoh Geopark”. Kampanye ini sangat menarik, karena 25 karya tulisan terbaik diterbitkan dalam bentuk buku bertajuk : “Jelajah Geopark Suoh“.
Buku ini pada gilirannya nanti akan makin memperkaya tentang khasanah literasi Suoh dari berbagai sudut pandang pengalaman dan pendekatan keilmuan untuk semakin meyakinkan memang Geoheritage Suoh layak menjadi Taman Bumi (Suoh Geopark) Nasional, bahkan ke depannya layak menjadi salah satu Geopark Internasional yang diakui UNESCO.
Konsep dan Terminologi Geopark
Secara terminologi Geopark merupakan singkatan dari geological park atau dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai taman bumi. Namun kalau ditelisik lebih dalam, geopark merupakan suatu wilayah geografis yang terbentuk atas beberapa yaitu; situs warisan geologi (Geosite), kawasan warisan geologi (Geoheritage) yang memiliki kawasan dengan keragaman geologi (Geodiversity), kawasan dengan keanekaragaman hayati (Biodiversity) dan kawasan keragaman budaya (Cultural Diversity).
Geopark sendiri adalah suatu konsep yang dikembangkan pertama kali di Eropa sebelum tahun 1999, yaitu untuk mewadahi ide penyatuan-kembali antara manusia (termasuk flora-fauna) dengan bumi yang telah memberinya tempat tinggal.
Geopark adalah konsep manejemen yang memadu-serasikan tiga jenis keragaman alam yaitu keragaman geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity) dan keragaman budaya (cultural diversity). Konsep geopark sendiri mengacu pada pengembangan kawasan yang memberikan pengaruh terhadap konversi, edukasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data yang dilansir Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Kaldera Suoh, Lembah Suoh dan Kaldera Danau Ranau merupakan kawasan potensial Geoheritage di Provinsi Lampung. Masyarakat Lampung khususnya warga Lampung Barat patut berbangga, karena destinasi wisata Suoh dan Ranau masuk dalam kawasan potensial Geoheritage yang bisa dikembangkan menjadi Geopark.
Berdasarkan rilis KNGI. Saat ini Indonesia memiliki 6 Geopark yang telah diakui UNESCO sebagai Geopark dunia, dan Merangin Geopark.Sedangkan 15 lokasi Geopark lainnya sudah mendapat sertifikat Geopark Nasional.
Tagline Geopark
Regulasi untuk Pengembangan Kawasan Geopark di Indonesia sudah diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2019 dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.
Konsep geopark sendiri dimaknai sebagai salah satu model dan instrumen untuk melakukan kegiatan pembangunan di suatu kawasan secara berkelanjutan. Pembangunan dan pengembangan geopark itu sendiri berpilar pada aspek konservasi, pendidikan, dan penumbuhan nilai ekonomi lokal. Tiga pilar tersebut menjadi penyangga tujuan pembangunan geopark, yaitu memuliakan warisan bumi, dan sasaran pengembangannya ditujukan untuk mensejahterakan masyarakat setempat.
Tujuan dan sasaran ini selanjutnya, yang dikemas dalam tajuk: “Memuliakan Bumi Mensejahterakan Masyarakat ( Celebreting Earth Heritage, Suistaining Local Communities) menjadi tagline geopark, yang kemudian disosialisasikan ke seluruh dunia.
Geopark terdiri dari sejumlah tapak geologi yang memiliki kepentingan ilmiah khusus, kelangkaan atau keindahan. Jadi pada galibnya, geopark tidak hanya berhubungan dengan geologi saja tetapi juga arkeologi, ekologi, nilai sejarah atau budaya.
Kondisi dalam satu kawasan yang diusulkan sering tidak dijumpai dalam satu lokasi sehingga perlu dijelaskan hubungan antar tapak geologi tersebut dan juga dukungan lainnya berupa tapak arkeologi, ekologi, nilai sejarah atau budaya.
Rekam Jejak Geoheritage Suoh
Kalau disigi dari buku Warisan Geologi Nusantara Panduan Jelajah Bumi, (Oki Oktaridi, 2018) dijelaskan tentang keberadaan Geoheritage Suoh yang potensial mendukung untuk dikembangkan menjadi Geopark.
Nama Suoh yang disandang kawasan ini konon berasal dari bahasa Lampung, Suwah yang artinya dibakar. Bisa jadi kawasan ini muasalnya terbentuk, karena terbakar magma dari letusan fraetik gunung Ratu.
Geolog Belanda, Ch E Stehn yang ditugaskan Pemerinta Hindia Belanda meninjau lokasi bencana ini melaporkan, bahwa, gempa dan letusan besar Freatik menyebabkan erupsinya Gunung Ratu.Menurut catatan Ch E Stehn, pada tahun 1933 di kawasan ini terjadi peristiwa gempa besar yang diiringi dengan letusan Fraetik yang meluluhkan bentang alam dan peradaban sekira 10 kilometer dari pusat erupsi.
Dalam sebuah paparan catatan Stehn, disebutkan kalau peristiwa ini nerupakan bencana terbesar di kawasan ini. Bencana ini selain menyebabkan banyak korban juga terjadi migrasi besar-besarn dari Suoh ke kawasan Semaka yang kini masuk wilayah Tanggamus.
Erupsi Gunung Ratu yang menyebakan gempa, aliran magma dan semburan belerang serta asap yang tebal, kini menyisakan dua kawah dan lima danau yang punya karakteritik berbeda satu sama lain; yaitu Danau Asam, Danau Lebar, Danau Minyak, Danau Berikan, dan Danau Belibis
Bencana alam gempa dan letusan Freatik Gunung Ratu, kemudian menciptakan Geoheritage Suoh, yang kini jadi pijakan ( mile stone) dalam pengembangan Suoh Geopark. Kesuburan, keindahan dan fenomena alam yang khas di kawasan ini menjadi berkah bagi warganya, dan tentu patut dijaga keberlanjutannya melalui bingkai Geopark. Muaranya untuk memuliakan bumi Suoh, melestarikan dan sekaligus membuahkan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Potensi yang dimiliki Geoheritage Suoh
Pertama, Kaldera Suoh, kaldera ini merupakan kaldera aktif yang setiap saat bisa terjadi erupsi. Keberadaannya sebagai kantong (enclave) Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada di sebuah dataran tinggi yang cukup luas sekira 16 X 8 kilometer.
Kalau diamati dari ketinggian Lembah Suoh, Nampak adanya belasan lubang berupa kolam besar maupun kecil, yang mengeluarkan gelembung air yang mendidih (solfatara) ditingkahi bunyi letupan kecil serta uap yang membubung ke udara.
Aktivitas vulkanis ini dipengaruhi aktivitas tektonik , karena kaldera suoh posisinya berada di jalur sesar aktif segmn Semangko, Blok Lampung. Awalnya aktvitas tektonik ini menyebabkan terjadinya tekanan membentuk cekungan tempatmuncunya aktivitas vulkanis.
Waktu terus berlanjut aktivitas vulkanis ini membentuk kaldera dan di dalamnya terbentuk kawah, maar, kubah lava dan yang mengakibatkan unit munculnya istilah lantai keramikan. Fenomena ini merupakan hamparan batuan yang mengeras dan mengerak seperti keramik yang cukup luas.
Danau Lebar
Danau Lebar Suoh adalah danau yang berada di pinggir jalan yang menghubungkan pekon Gunung Ratu dengan pekon Suka Marga Suoh. Selain indah wisata danau lebar ini, konon disebut lebar karena memang terlihat lebar, walaupun faktanya dana seluas 65 hektar kalah lebar dengan lebarnya Danau Asam.
Danau Minyak
Danau yang satu ini menyajikan fenomena alam yang khas, selain berbau aroma bau minyak, air permukaan danau ini nampak berminyak. Tersebab fenomena alam itulah danau yang indah indah ini dijuluki Danau Minyak oleh masyarakat setempat.
Danau Asam
Posisi Danau Asam ini tak begitu jauh dari jalan. Sejatinya, lebar Danau Asam sekitar 85 hektar, lebih luas dari Danau Lebar. Dinamakan Danau Asam oleh masyarakat Suoh karena rasa airnya yang asam.
Danau Belibis
Danau ini menjadi salah satu danau yang menarik, karena menjadi habitat burung belibis. Kawasan ini sangat cocok untuk para pengamat burung (birdwatching) dan juga penyuka fotografi alam liar.
Menuju Taman Bumi Suoh
Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) mensyaratkan banyak aspek dalam menetapkan sebuah kawasan menjadi Geopark. Aspek yang jadi pertimbangan antara lain; dalam menetapkan mensyaratkan banyak aspek antara lain; warisan geologi, sejarah, budaya dan yang lainnya.
Di tingkat nasional, penilaian aspek geologi dan bentang alam yang meliputi kawasan (5%), geokonservasi (20%), serta warisan geologi dan budaya (10%). Kemudian struktur kepengurusan (25%), penafsiran dan pendidikan lingkungan (15%), geowisata (15%), serta pembangunan ekonomi regional yang berkelanjutan (10%).
Blog PAPSI melansir sedikitnya ada lima kriteria yang harus dipenuhi agar sebuah geopark dapat berlangsung mencapai tujuannya, yaitu; ukuran dan lokasi, manajemen pelibatan masyarakat, pengembangan ekonomi, pendidikan dan perlindungan dan konservasi.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lampung Barat, Okmal, M.Si, mengatakan, pertemuanya dengan Badan Geologi ESDM di Bandung menghasilkan beberapa point penting Geopark sebagai perwujudan 3 komitmen Pemkab Lambar; kabupaten Literasi, Konservasi, dan Tangguh Bencana.
Geopark dan cagar alam geologi tidak dibatasi secara luasan. Selama dalam satuan luasan terdapat suatu keunikan geologi (fosil, bentang alam, dan jenis batuan dan proses pembentukan), bisa diusulkan sebagai geopark.
Kawasan Suoh – Ranau Geoheritage merupakan satu geosite yang menambah keunikan Suoh Geopark Lampung Barat. Pengembangan Suoh Geopark, bisa jadi luasannya tak hanya mencakup wilayah Kecamatan Bandar Negeri Suoh, tetapi bisa juga meliputi kecamatan Balik Bukit, Kecamatan Sukau, dan Kecamatan Seminung yang punya pertalian geoheitage dan saling mendukung berupa keunikan bentang alam juga mendukung secara warisan budaya dan arkeologis.
Persoalan wilayah Geoheritage Kaldera Ranau yang saat ini sebagian masuk Provinsi Sumsel dan juga dalam pemetaan KNGI masuk ke Provinsi Bengkulu tentunya bisa dirembuk, dikonfirmasi,diklarifikasi dengan pihak terkait dengan bukti di lapangan terkini. Geoarea Ranau,, Danau terbesar kedua di Sumatera dengan keunikannya memiliki potensi, juga kawasan Gunung Seminung yang juga merupakan penghasil tembakau Ranau yang khas untuk pembungkus cerutu yang sangat terkenal di pasar tembakau dunia di Bremen (Jerman).
Sedangkan di Kecamatan Sukau ada situs Tanjungraya, kawasan ini juga merupakan penghasil kopi luwak yang khas. Selain itu juga memiliki tradisi dan budaya yang khas dan hingga kini terus bertumbuhkembang.
Kemudian di kawasan Geoarea Liwa, ibukota kabupaten Lampung Bara yang berlokasi di Kecamatan Balik Bukit t ini punya sejarah diguncang gempa pada tahun 1994. Di kota ini juga menyisakan bangunan-bangunan lama berupa rumah panggung yang tahan gempa. Kemudian ketika revitalisasi juga dibangun rumah-rumah tahan gempa berkontruksi ferrocement karya putera daerah Lampung Ir. Anshori Djausal. Di Liwa juga buadaya dan tradisi kearifan local masih berkembang antara lain; tradisi Nyambai, Sekuraan dan Malamam.
Di kawasan ini juga ada lokasi Kebun Raya Liwa (KRL) yang mempunyai koleksi anggrek dan tanaman langka khas Hutan Hujan Tropis. . Di Hujung Langit ada bukti arkeologis situs tertua di Lampung Barat dan ada juga kawasan TNBBS Kubu Perahu dengan koleksi pohon yang usianya ratusan tahun dan juga air terjun kembar Sepapa Kiri dan Sepapa Kanan. Sedangkan untuk kekayaan budaya ada tradisi Nyambai dan Sekuraan. Kekayaan sejarah kota Liwa pernah jadi ibukota keresidenan ketika zaman Belanda.Tak jauh dari Kecamatan Balik Bukit ini juga berdiri Gunung Pesagi yang punya karakteristik khas. Dan konon diyakini dari kawasan inilah asal muasal suku Lampung.
Kehadiran Suoh Geopark diharapkan juga sebagai daerah penyangga (bufferzone) untuk kabupaten Lampung Barat yang rawan kebencanaan geologi, karena di dalam kawasan geopark terdapat cagar alam geologi sebagai zona intinya. Untuk itu kawasan geopark juga harus memuat zona pemanfaatan guna mendukung kepentingan masyarakat.
Kebermanfaatan utama geopark adalah pada keterlibatan masyarakat, jadi keterlibatan masyarakat wajib hukum nya. Jadi ke depan bisa dikemas wisata minat khusus juga yang juga sekaligus untuk pembelajaran tentang bumi (geo education), baik untuk masyarakat maupun wisatawan.
Taman Bumi Suoh (Suoh Geopark) yang sedang disongsong kehadirannya oleh masyarakat Lampung Barat ini diharapkan bisa menjadi narasi baru yang bisa menjadi literasi dan sumber belajar bagi warga. Hadirnya Suoh Geopark bisa mendorong masyarakat bisa dengan bijaksana berdampingan hidup dengan alam termasuk menikmati berkah dan mengantisipasi bencana yang kemungkinan dihadapi. (mitigasi)
Taman Bum iSuoh pada gilirannya diharapkan juga akan mendukung terwujudnya visi dan misi yang dicanangkan Pemkab Lambar sebagai kabupaten Literasi, Konservasi dan Tangguh Bencana. Suoh Geopark diharapkan bisa menjadi jalan masyarakat Lampung Barat untuk memuliakan bumi sekaligus memetik manfaatnya demi kesejahteraan bersama menuju Lampung Barat Hebat.
