Meskipun telah ditemukan prasasti dari abad ke-10 M, literatur kesejarahan di wilayah barat ini seringkali terlewat. Keterangan dari arsip kolonial pun lebih sering menggambarkan Tulangbawang sebagai Lampung seluruhnya (Amran 2014), padahal tidak.
Minimnya data kesejarahan di wilayah barat dibandingkan dengan wilayah timur Tulangbawang dan sekitarnya merupakan permasalahan yang unik karena jalur barat merupakan wilayah awal yang dilalui jalur laut dan di wilayah ini juga terdapat teluk.
Antara Liwa dan Tanggamus terdapat gap tinggalan arkeologis, terutama sebaran keramik kuno yang sangat signifikan mulai dari cekungan Suoh.
Jika dikaitkan dengan tinggalan tradisi megalitik yang sebelumnya ditemukan di Suoh, kawasan Teluk Tanggamus dan sekitarnya hingga area survei di Ulu Belu merupakan wilayah minim tinggalan arkeologis, terutama dari periode klasik hingga awal Islam.
Ulu Belu sendiri yang terkenal dengan prasasti Ulu Belunya (14 M) yang berisi permintaan tolong kepada Dewa Trimurti (Utomo, 2007)
Keberadaan kelompok permukiman di Liwa, Suoh, dan Tanggamus memiliki dinamikanya masing-masing yang kontekstual, kasuistik, dan tidak linier meskipun berada pada satu jalur sungai utama yang sama, yaitu Way Semangka.
Permukiman ini mengikuti pola struktur sungai dendritik dimana telah terjadi pertukaran antara hulu dan hilir. Permukiman paling tua berlokasi di hilir dan sekaligus memegang kontrol jalur perdagangan dan distribusi barang ke permukiman-permukiman lainnya hingga ke bagian hulu.
